Re-identifikasi data cocokkan data anonim dengan informasi publik. Ungkap identitas individu tanpa izin. Perusahaan dan penyedia kesehatan lepaskan data anonim. Proses ini ancam privasi pengguna.
De-identifikasi hapus identitas langsung dan tak langsung. Gunakan teknik penyembunyian atau pengaburan data. Big data permudah re-identifikasi. Algoritma canggih tingkatkan risiko pelanggaran.
Hukum dan Risiko Privasi
Regulasi AS izinkan sirkulasi data anonim. FTC dan GLBA dukung data agregat. HIPAA lindungi data kesehatan yang diidentifikasi. Pelanggaran data picu notifikasi wajib.
Data pendidikan sensitif terhadap re-identifikasi. Universitas kurangi publikasi data direktori. Biospecimen masuk kategori subjek manusia. Aturan Common Rule perketat penelitian.
Kasus dan Solusi Re-identifikasi
Latanya Sweeney temukan data gubernur Massachusetts. Kombinasikan data GIC dengan daftar pemilih. Netflix dan AOL alami re-identifikasi. Data lokasi sulit dianonimkan sepenuhnya.
Re-identifikasi ungkap 87% populasi AS. Gunakan kode pos, jenis kelamin, tanggal lahir. Peneliti Swiss identifikasi 84% kasus pengadilan. Data sensitif picu rasa malu.
GDPR gunakan pseudonymization kurangi risiko. Simpan informasi tambahan secara terpisah. Larang re-identifikasi perlu penegakan ketat. Data sintetis jadi solusi aman.
Privasi digital rentan oleh re-identifikasi. Perusahaan hadapi risiko pelanggaran hukum. Individu alami kecemasan dan diskriminasi. Solusi teknis dan hukum diperlukan.
Tingkatkan standar de-identifikasi data. Perketat keamanan database anonim. Buat kebijakan rilis data ketat. Differential privacy kurangi risiko pelanggaran.
Penegakan hukum harus lebih tegas. FTC dan FBI pantau pelaku re-identifikasi. Individu perlu hak tindakan hukum. Audit perangkat lunak jadi keharusan.
FAQ
Apa itu re-identifikasi data?
Cocokkan data anonim dengan informasi publik.
Mengapa re-identifikasi berbahaya?
Ungkap identitas dan picu pelanggaran privasi.
Bagaimana cegah re-identifikasi data?
Gunakan pseudonymization dan data sintetis.